Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan

Sabtu

Festival Kampoeng Silat Jampang

Dibalik Keterpurukan Silat

“Ciat, jeduk.. jeder..plak…”. Pesilat-pesilat Betawi saling tukar pukulan, tendangan, dan sabetan. Acara ini bertajuk “Festival Kampoeng Silat Jampang” digagas oleh Dompet Dhuafa dengan maksud melestarikan Silat yang merupakan bagian dari budaya masyarakat Betawi.

Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1432 H, Dompet Dhuafa mengadakan acara “Festival Kampoeng Silat Jampang”, Selasa (7/12) siang di panggung lobi Pejaten Village, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Festival ini menghadirkan parade silat Betawi dari berbagai perguruan Silat, Marawis, peluncuran “Kampoeng Silat Jampang”, santunan untuk kaum Dhuafa dan anak yatim.

Adapun rangkaian kegiatan yang terselenggara adalah panggung seni dan atraksi silat Betawi, serta Marawis. Parade silat Betawi menampilkan berbagai perguruan silat Betawi dengan latar belakang musik silat Betawi dengan selingan Marawis.

Menurut Direktur Program Dompet Dhuafa, Arifin Purwakananta, festival ini ditujukan untuk meningkatkan budaya silat sebagai bagian dari upaya character building,”. Selain itu, lanjutnya, untuk mendorong pemberdayaan melalui seni dan budaya silat di masyarakat.

“Jadi, kita mulai keterpurukan Silat sebagai budaya yang luhur, tetapi tidak dimanfaatkan sebagai pembangunan karakter bangsa. Silat lebih dari beladiri, yaitu budi pekerti luhur bangsa kita, ada karakter ksatria, tegas, cekat, tangkas, dan berani,” tutur Arifin yang ditemui wartawan dilokasi terselenggaranya acara.

Di samping itu, acara ini digagas untuk membantu para guru-guru silat menafkahi diri mereka dan mengembangkan perguruan mereka. “Oleh karena itu wajib pemberdayaan kelompok marjinal, caranya kita pertumbuhkan perguruan-perguruan silat,” ujarnya.

Kampoeng Silat Jampang, terangnya, akan dibuka di Parung, di mana saat ini sudah ada lima perguruan silat tradisional, dan dalam jangka pajang akan diisi oleh 10 perguruan silat. “Kita juga akan menularkanya ke daerah lain,” tandasnya.

Aksi Para Jawara
Arifin menambahkan, dipilihnya pencak silat sebagai pengembangan kebudayaan lantaran olahraga beladiri yang merupakan warisan budaya luhur bangsa mulai tergerus dengan perkembangan zaman. “Silat saat ini terpinggirkan, dan hanya diajarkan di tempat-tempat tertentu saja. Kami wajib mengembangkan seni silat untuk layak tampil sebagai warisan budaya luhur bangsa,” terangnya.

Selain itu, festival ini juga bertujuan untuk membangun dan menyebarkan bahwa olahraga beladiri pencak silat sebagai sesuatu yang penting. “Kami mengajarkan kepada para pesilat untuk mendapatkan “kependekaran” atau sari pati dari gelar pendekar, yakni sifat cepat, kuat, tegas, aktif, dan ksatria. Dimana hal ini harusnya diperlukan untuk menyelesaikan masalah bangsa,” papar Arifin.

Festival Kampoeng Silat Jampang dihadiri oleh 10 perguruan asli Betawi, yang merupakan bagian kecil khasanah silat Betawi. “Perguruan silat yang hadir adalah PS Si Bunder, PS Cingkrik Rawa Belong, PS Cingkring Goning, PS Golokseliwa, PS Beksu H Hasbulloh, PS Macan Belang Jitu, PS Putra Jakarta, PS Gerak Saka, PS Gerak Cipta, dan PS Zona Madina.

Pada kesempatan ini para jawara Betawi berkumpul dan mempertontonkan kebolehan aksi bela diri Pencak Silat dalam Festival Kampoeng Silat Jampang ini. “Silat saat ini terpinggirkan, dan hanya diajarkan di tempat-tempat tertentu saja dan kegiatan ini merupakan kerja sama Forum Diskusi Sahabat Silat, Kampoeng Silat.

Jawara-jawara perguruan Kampung Silat Jampang saling pamer jurus andalan di perguruan mereka masing-masing. Dengan karakter gerak yang berbeda-beda, masing-masing perguruan menunjukan kekhasan.

Ada para jawara yang mengandalkan kecepatan dan tenaga, dalam rangkaian pukulan dan tendangan mereka, ada yang melenggak-lenggok seperti menari jaipong, namun dengan kekuatan pukulan, tendangan, bantingan yang mematikan.

Ada para jawara yang mengandalkan kecepatan dan tenaga, dalam rangkaian pukulan dan tendangan mereka, ada yang melenggak-lenggok seperti menari jaipong, namun dengan kekuatan pukulan, tendangan, bantingan yang mematikan.

Menurut Arifin, pemilihan tempat festival di mal merupakan terobosan baru. “Kami memilih kegiatan ini di mal agar bisa diserap publik lebih cepat. Kami jemput bola,” paparnya.

Sementara, menurut peserta festival dari perguruan silat Macan Belang Jitu, Aay (17), acara ini bisa membuat budaya Betawi lebih terangkat derajatnya. “Ya bagus acaranya, dengan ada di mal seperti ini jadi tertantang untuk menunjukkan kebolehan silat saya,” ujarnya.

Senada dengan Aay, Ica (14), salah satu peserta festival dari perguruan yang sama berharap, ke depan acara seperti ini bisa diadakan kembali.


[+/-] Selengkapnya...

Senin

Sengketa Tanah Kapuk


Warga Kapuk Berniat Tagih Foke di Akhirat

Proses ganti rugi tanah warga Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara mulai disikapi secara mistis oleh para ahli waris. Mereka menggelar aksi teaterikal dengan doa bersama sekaligus prosesi bakar kemenyan. Aksi ini mereka lakukan di Pintu Barat Balai Kota DKI Jakarta, Selasa lalu (02/11).

Tindakan warga tersebut dimaksudkan sebagai sindiran atas sikap pihak Pemprov DKI Jakarta yang mempersulit proses ganti rugi. Padahal pada akhir tahun 2006 lalu, DPRD DKI telah menggelar sidang Paripurna. Salah satu hasil sidang tersebut adalah meminta pihak Pemprov untuk segera membayar ganti rugi kepada para ahli waris. Namun hingga saat ini, rekomendasi itu tidak segera dilaksanakan oleh pihak Pemprov.

Perjuangan warga Kapuk dalam menuntut haknya itu telah berlangsung selama 33 tahun.
“Kami menuntut ganti rugi tanah, sebelumnya diwakafkan pemilik Kani Binti Sapeng dan Mena Bin Lamat sebagai pemakaman. Namun sejak 1977, tanah tersebut dijadikan perumahan Giriselo Indah yang dikelola PT Grisenda. Sedangkan ganti rugi karena peralihan penggunaan tanah tidak pernah dibayarkan,” ungkap H.Dani.

Melihat tidak adanya itikad baik dan pihak Pemprov itulah yang mengakibatkan warga berinisiatif menggelar acara bakar kemenyan. Secara simbolik, acara itu mencerminkan bahwa warga sudah tidak percaya lagi dengan janji-janji manis Foke selama masa kampanye, yang bertekad untuk segera menyelesaikan kasus-kasus warisan para pendahulunya. Tetapi faktanya, hingga saat ini, proses ganti rugi itu tidak juga diberikan.

Menurut Toton, salah seorang ahli waris Mena Bin Lamat, saya tidak habis pikir dengan tindakan Foke yang tidak juga memberikan ganti rugi. “Mereka itu maunya apa sih? Kok, hingga saat ini tidak juga memberikan ganti rugi dan selalu jawabannya nunggu rapat melulu,” keluh Tonton.

Begitu juga halnya dengan Hj.Kani Binti Sapeng, selaku pemilik yang sah lahan tersebut yang juga mengaku kesal dengan Foke. “Semestinya kalau mereka memang tidak mau bayar tanah saya, bilang dong terus terang. Saya ikhlaskan kok, tanah saya buat kuburan. Biar nanti tinggal saya tagih di akhirat,” ujar Hj.Kani Binti Sapeng dengan kesal.

Kuasa ahli waris, H Dani yang menggelar acara tersebut menjelaskan, bahwa acara itu digelar karena dirinya mengaku sudah tidak percaya lagi dengan proses politik dan proses hukum hingga moral pemimpin.

“Sudah tidak ada lagi pemimpin yang amanah, mereka semestinya malu dan harus banyak belajar dari Almarhum Mbah Maridjan. Sebenarnya, saya melihat Bang Foke masih ada itikad baik, tetapi bawahannya itu yang berbelit-belit dan mengulur-ulur waktu,” sindir H.Dani.

Sementara Koordinator LSM Tjahaja Nurani Bangsa (TNB), Gugu Elmo Ra’is menyatakan, tindakan warga itu merupakan bukti bahwa masyarakat kita sudah sangat apatis dengan para pemimpinnya. “Kalau mereka memang memiliki sense of crisis atau kepekaan sosial, mereka dapat dengan cerdas menangkap pesan moral dan tindakan warga itu dan segera memberikan hak warga itu. Masalahnya tinggal apakah mereka memiliki itu atau tidak?” ujarnya.

[+/-] Selengkapnya...

Kamis

Edu Fair Dian Harapan Daan Mogot

Sekolah ke Luar Negeri Tetap diminati

Rabu (6/10) lalu, bertempat di Multifuction Room Lt.4 Sekolah Dian Harapan Daan Mogot, berlangsung pameran Edu Fair. Tercatat 19 peserta perguruan tinggi dalam dan luar negeri turut berpartisipasi pada Edu Fair yang sudah 3 kali dilaksanakan oleh sekolah ini.

Dari 19 peserta, 16 adalah perguruan tinggi dan 3 agen konsultan, yakni; Singapore Management University, Universitas Tarumanegara, President University, Universitas Katholik Atmajaya, La Salle Singapore (College of the Art), Universitas Pelita Harapan, Binus University, Binus Internasional, Nanyang Academy of Fine Art, Universitas Parahyangan Bandung, London School of Public Relation, DIMENSIONS internasional College, Raffles Design and Commerce Australia and Singapura, Universitas Multimedia Nusantara, Prasetya Mulya Business School, Swiss German University dan Singapura of Management.

Sedang 3 konsultan pendidikan adalah: Sun Education Group (agen konsultasi pendidikan internasional), Edlink+Conex (agen konsultasi pendidikan internasional) dan China Link (agen konsultasi pendidikan China).

“Edu Fair sifatnya terbuka untuk umum dan bertujuan untuk mempersiapkan siswa-siswi kelas 12 (kelas 3 SMA) ke perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Di setiap stand perguruan tinggi memiliki consellor yang siap memberikan beragam informasi lengkap dan detail kepada pengunjung. Harapan kami, mereka bisa menentukan pilihan perguruan tinggi mana yang tepat—tidak salah pilih.” ujar Rini Sari, selaku Marketing & Promotion Sekolah Dian Harapan Daan Mogot.

UPH Masih Terfavorit
Menurut Rini, pada umumnya siswa-siswi Sekolah Dian Harapan memilih melanjutkan ke Universitas Pelita Harapan. Wajar saja karena Sekolah Dian Harapan berada dalam satu yayasan dengan Universitas Pelita Harapan. Namun, tetap ada tes-tes yang harus mereka lalui.

Sedangkan Renata, siswi Sekolah Dian Harapan kelas 12, mengatakan, saya tadi mendatangi setiap stand perguruan tinggi dan bertanya tentang banyak hal kepada consellor mereka. Jawaban mereka memuaskan dan masing-masing perguruan tinggi memiliki keunggulan tersendiri.

Sementara itu, salah satu pengunjung pameran, Witri Elfianti mengaku, sangat mendapat bantuan informasi dari pameran yang diadakan kali ini. "Ini membantu sekali bagi saya yang ingin kuliah di luar negeri. Karena walaupun telah menetapkan pilihan untuk kuliah di Eropa dengan mengambil jurusan Hubungan Internasional, tetapi masih ada banyak kebingungan yang ingin saya konsultasikan. Dari sini kita jadi tahu sebenarnya potensi kita dimana dan akan diarahkan pada universitas yang tepat," katanya.

AdInfo juga sempat mengunjungi stand Education Concelor dari Edlink Connex yang merupakan lembaga konsultan pendidikan internasional selaku peserta pameran.
Vera dari Edlink Connex mengungkapkan, tujuan pameran perguruan tinggi ini adalah untuk ajang konsultasi bagi siswa yang ingin menempuh kuliah, baik di dalam dan ke luar negeri. Dimana di saat itu juga mereka bisa langsung memasukkan aplikasi ke universitas tertentu yang mereka inginkan. Nantinya, siswa yang tertarik untuk kuliah di luar negeri dapat langsung melakukan interaksi dengan para konselor untuk berkonsultasi mengenai berbagai hal. Misalnya, jurusan apa yang tepat bagi mereka dan lainnya," ujar Vera ketika ditemui di lokasi pameran.


[+/-] Selengkapnya...

Selasa

Macet, Jalan Rusak Akibat Galian Pipa

Perbaikan sarana umum terkadang mengakibatkan tersendatnya arus lalu lintas. Hal inilah yang dirasakan sebagian masyarakat Kapuk yang melintas Jalan Tanggul Raya. Belakangan, mereka terganggu akibat galian pipa PAM.

Selama kurang lebih 2 bulan lamanya, warga Kapuk harus terganggu akibat penyempitan jalur, terutama di sepanjang Jalan Tanggul Raya. Galian pipa PAM memakan separuh badan jalan sehingga arus lalu lintas harus berjalan bergantian.
Hal tersebut mengakibatkan kemacetan yang berujung pada terganggunya aktivitas masyarakat sehari-hari atau yang hendak berangkat kerja.
Menurut salah seorang penumpang angkutan kota, Dewi yang ditemui Adinfo, Sabtu (5/7), mengharapkan proses penanaman pipa PAM tersebut dapat diselesaikan sesegera mungkin.
”Saya sering terjebak macet di jalan ini. Hingga tidak jarang saya harus telat masuk kerja selama dua bulan belakangan ini,” ujarnya.
Hal yang sama juga diungkapkan salah seorang supir angkutan umum, Black. Dia mengatakan, kalau memang jalan ini digali untuk menanam pipa PAM, tolong cepat diselesaikan. Jujur saja, akibat galian tersebut, pendapatan saya berkurang karena jalan sering macet.
“Akibat macet, saya jadi sering motong jalur dengan melewati kawasan Perumahan Cengkareng Indah. Padahal di sana, warga dan tukang ojek banyak yang ngelarang, tapi saya dan teman-teman supir angkot tetap lewat jalan tersebut. Abis kalo ngga begitu, penghasilan saya berkurang,” tambahnya.
Lebih lanjut Black juga mengatakan, kalo bisa sih, cepat diselesaikan biar kita tidak harus gontok-gontokan dengan tukang ojek lagi. Kalo begitu kan, tidak ada pihak yang merasa dirugikan dan kami juga enak nariknya.
Sementara itu, salah seorang pengendara motor, Janer mengatakan, sejak adanya penggalian pipa PAM tersebut, kemacetan memang sering terjadi. Bahkan tidak jarang masyarakat yang berkendaraan harus bersitegang karena berebut jalan.
“Mereka semua sama-sama ingin cepat jalan. Akhirnya pada ribut,” tegasnya.
Sampai dengan awal Juli lalu, penggalian pipa PAM masih terus berlangsung dari Jembatan Komplek Ambon hingga menjelang Jembatan Gantung. Di sepanjang jalan tersebut, terdapat beberapa titik yang menyebabkan kemacetan arus lalu lintas.
Sedangkan sampai berita ini diturunkan, Adinfo belum mendapat keterangan resmi dari pihak kontraktor selaku pelaksana proyek tersebut atau dari pihak PAM selaku institusi yang mengadakan penggalian tersebut.


[+/-] Selengkapnya...

Jumat

600 Ribu Ekstasi disita dari Mutiara Taman Palem

Rabu, 27 Februari 2008 polisi menggerebek satu Ruko dengan nomor C9 no 62 di Mutiara Taman Palem. Dalam pengerebakan tersebut, polisis berhasil menyita 600 ribu Ekstasi siap jual dari tangan 6 orang tersangka.

Dari ke 6 orang tersebut, 1 orang diantaranya merupakan warga Negara Indonesia, 3 diantaranya adalah orang Taiwan, sisanya dari Belanda dan juga Singapura.
Sindikat peredaran Ekstasi yang ada di Mutiara Taman Palem merupakan kasus yang telah lama diinca polisi, setidaknya inilah fakta yang kami peroleh setelah terjadi penangkapan.
Menurut salah satu tetangga yang berada persis disebelah ruko ekstasi ini, Andi, beberapa keamanan setempat telah mengintai tempat bernomor C9/62 ini sejak satu Minggu yang lalu.
Dan melarang keras warga untuk mendekati tempat ini, baik untuk berjualan maupun bermain-main. Setiap kendaraan yang melintaspun tak luput dari perhatian mereka. Yang jelas keamanan yang dilakukan benar-benar ketat.
Sampai-sampai sikap keamanan ini sempat membuat warga bingung, karena sebelumnya mereka tak pernah melakukan pengotrolan seperti ini, baik di dalam perumahan maupun ruko.
Setelah terjadi penangkapan terhadap 6 bandar ekstasi yang terjadi 27 Februari lalu, masyarakat baru menyadari bahwa ada sindikat peredaran ekstasi di ruko yang baru saja dihuni 3 hari lalu itu.
Andi yang merupakan tetangga korban sangat menyesalkan kejadian ini. Tetangga yang diharapkannya menjadi sahabat untuk menemani kesendiriannya selama ini. Ternyata hanya dikenalnya selama 2 hari, itupun hanya melalui tatap muka saja.
Maklum, selain tak pernah berkomunikasi. Ruko yang baru saja ditempati itu selalu terlihat sepi dan terkunci, kecuali pada hari pertama. Dimana terlihat ada 6 orang berparas Cina sedang mengangkat sebuah berangkas sebesar mesin cuci dari mobil ekspedisi.
Kejadian ini disaksikan langsung oleh Andi, meski demikian tak ada firasat sedikit pun tentang isi dari berangkas besar itu. Selang 2 hari setelah kejadian, polisi berseragam preman melakukan penggeledehan di tempat berlantai 3 itu dan menemukan 600 ribu ekstasi seharga Rp60 milyar di dalamnya.
Peristiwa ini sontak membuat warga Mutiara Taman Palem kaget, tetangga yang baru saja singgah ternyata sekelompok penjahat yang menjual barang haram berjenis ekstasi senilai Rp60 milyar.


[+/-] Selengkapnya...

Senin

Ketika Muncul Minyak Murah

Jika para elit politik berburu kekuasaan, tidak begitu dengan warga Kapuk Kebun Jahe. Sejak konversi minyak tanah ke elpiji, aktivitas mereka tak jauh dari berburu minyak ke toko dan agen.
Maklum, selain sulit, harga minyak di tempat ini cukup tinggi. Karena itulah ketika minyak murah muncul ke permukaan, mereka rela antri hingga berjam-jam.

Konversi minyak tanah ke elpiji yang diupayakan pemerintah sejak September 2007 lalu, masih dirasa membebankan oleh sebagian masyarakat Kapuk Cengkareng. Karena sampai saat ini mereka belum memperoleh gas elpiji di tengah harga minyak yang kian tinggi dengan kisaran harga mulai dari Rp4000-5000/liter.

Harga ini rupanya tidak diimbangi dengan volume minyak yang besar, buktinya warga masih saja sulit mendapatkan minyak di warung dan agen. Alhasil, pekerjaan memburu minyak dari kampung ke kampung menjadi rutinas sebagian warga Kapuk Kebun Jahe.

Melihat penderitaan warga yang kian terpuruk karena kenaikan harga minyak dan bahan pokok lainnya, maka sebuah agen minyak tanah yang tak ingin disebutkan namanya ini membuat terobosan baru dengan menjual minyak tanah murah kepada seluruh warga RT 011.

Setiap kepala keluarga akan mendapat satu kupon yang digunakan untuk membeli minyak tanah sebanyak 4 liter dengan harga Rp10.000. kesempatan ini tentu menjadi sebuah berkah dan banyak ditunggu warga. Tak ayal meski tak termasuk ke dalam 500 warga yang mendapatkan kupon, toh warga dari RT tetangga juga turut datang ke tempat ini.

Rela Antri
Jam 12 siang merupakan waktu yang ditentukan panitia untuk melakukan penjualan minyak murah. Tapi 2 jam sebelumnya, puluhan warga sudah ramai mengantri dengan derigen berwarna-warni.

Alhasil, tempat yang biasa sepi ini berubah menjadi ramai bak pasar tradisional yang menjual berbagai kebutuhan pokok. Terhitung sekitar 500 warga yang ada di Jalan Kapuk Kebun Jahe datang ke sini. Tapi, banyak juga yang datang tanpa undangan kupon berwarna putih itu.

Warga yang memiliki kupon terlihat sangat senang meski harus berdesak-desakan. Berbeda dengan mereka yang tidak mendapatkan kupon, wajah mereka benar-benar memelas, tak jarang mereka merayu panitia agar bisa mendapatkan satu liter minyak tanah.

Ironis sekali, tapi itulah kenyataan yang tak bisa dirubah dengan tangan sekelas mereka. Jika masih boleh berharap, harusnya pemerintah bisa melihat lebih realistis kebijakan konversi minyak tanah di tingkat bawah. Apakah sudah sesuai dan pantas untuk diterapkan pada masyarakat Indonesia yang kian terpuruk perekonominya ini?

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu

Ketika Muncul Minyak Murah

Jika para elit politik berburu kekuasaan, tidak begitu dengan warga Kapuk Kebun Jahe. Sejak konversi minyak tanah ke elpiji, aktivitas mereka tak jauh dari berburu minyak ke toko dan agen.
Maklum, selain sulit, harga minyak di tempat ini cukup tinggi. Karena itulah ketika minyak murah muncul ke permukaan, mereka rela antri hingga berjam-jam.

Konversi minyak tanah ke elpiji yang diupayakan pemerintah sejak September 2007 lalu, masih dirasa membebankan oleh sebagian masyarakat Kapuk Cengkareng. Karena sampai saat ini mereka belum memperoleh gas elpiji di tengah harga minyak yang kian tinggi dengan kisaran harga mulai dari Rp4000-5000/liter.

Harga ini rupanya tidak diimbangi dengan volume minyak yang besar, buktinya warga masih saja sulit mendapatkan minyak di warung dan agen. Alhasil, pekerjaan memburu minyak dari kampung ke kampung menjadi rutinas sebagian warga Kapuk Kebun Jahe.

Melihat penderitaan warga yang kian terpuruk karena kenaikan harga minyak dan bahan pokok lainnya, maka sebuah agen minyak tanah yang tak ingin disebutkan namanya ini membuat terobosan baru dengan menjual minyak tanah murah kepada seluruh warga RT 011.

Setiap kepala keluarga akan mendapat satu kupon yang digunakan untuk membeli minyak tanah sebanyak 4 liter dengan harga Rp10.000. kesempatan ini tentu menjadi sebuah berkah dan banyak ditunggu warga. Tak ayal meski tak termasuk ke dalam 500 warga yang mendapatkan kupon, toh warga dari RT tetangga juga turut datang ke tempat ini.

Rela Antri
Jam 12 siang merupakan waktu yang ditentukan panitia untuk melakukan penjualan minyak murah. Tapi 2 jam sebelumnya, puluhan warga sudah ramai mengantri dengan derigen berwarna-warni.

Alhasil, tempat yang biasa sepi ini berubah menjadi ramai bak pasar tradisional yang menjual berbagai kebutuhan pokok.
Terhitung sekitar 500 warga yang ada di Jalan Kapuk Kebun Jahe datang ke sini. Tapi, banyak juga yang datang tanpa undangan kupon berwarna putih itu.

Warga yang memiliki kupon terlihat sangat senang meski harus berdesak-desakan. Berbeda dengan mereka yang tidak mendapatkan kupon, wajah mereka benar-benar memelas, tak jarang mereka merayu panitia agar bisa mendapatkan satu liter minyak tanah.

Ironis sekali, tapi itulah kenyataan yang tak bisa dirubah dengan tangan sekelas mereka. Jika masih boleh berharap, harusnya pemerintah bisa melihat lebih realistis kebijakan konversi minyak tanah di tingkat bawah. Apakah sudah sesuai dan pantas untuk diterapkan pada masyarakat Indonesia yang kian terpuruk perekonominya ini?

[+/-] Selengkapnya...

Rabu

Pesta Tahun Baru dan Duka Warga Muara Baru

Setiap tahun baru tiba, banyak masyarakat yang merayakannya dengan berpesta pora. Berharap nasibnya akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Mereka besenang-senang di jalan atau di lingkungan rumah mereka. Tapi, bagaimana dengan warga Muara Baru yang belakangan dilanda bajir, apa yang mereka lakukan di tahun baru 2008 ini?

Rupanya nasib baik belum juga berpihak pada warga RT 07, Muara Baru yang pemukimannya berhadapan langsung dengan laut. Buktinya setelah malam tahun baru, wilayah mereka kembali dilanda banjir akibat air pasang yang tingginya mencapai paha orang dewasa.

Dengan demikian, kalau beberapa masyarakat masih asyik berlibur di puncak atau mengisi waktu liburan bersama keluarga, masyarakat Muara Baru malah sibuk memindahkan barang ke tempat lebih tinggi agar tidak terkena air laut.

Menurut warga setempat, air laut datang pada pukul 07.00 pagi tanggal 1 Januari 2008. Ketika AdInfo datang sore harinya, ketinggian air tetap pada sisi semula. Bencana yang kerap datang di pemukiman ini merupakan “kado pahit” di awal 2008.

Melihat kondisi Jakarta yang masih akan terus diguyur hujan ditambah pasangnya air laut, membuat warga Muara Baru tak bisa bernapas lega. Harapan mendapat bantuan pemerintah untuk membuat tanggul di depan rumah-rumah mereka pun masih “isapan jempol” belaka.

Dari pada menunggu bantuan pemerintah, beberapa warga sudah mengantisipasinya dengan membuat lantai 2 di rumahnya. Lihat saja rumah-rumah dari Muara Baru sampai pelelangan ikan, tampak bangunan atau tempat berteduh yang dibuat seadanya di atas tempat tinggal mereka.

Serontak kondisi berubah ketika berada di luar Muara Baru. Tampak beberapa warga masih larut dalam perayaan tahun baru 2008. Buktinya suara kembang api dan terompet masih kerap terdengar di hari pertama 2008.

Malam Tahun Baru
Kesan di malam tahun baru terasa lebih menyakitkan karena Jakarta diguyur hujan semalaman. Akibatnya banyak acara yang berjatuhan dan tak seindah khayalan. Ada apa dengan alam, kenapa dia tak bersahabat akhir-akhir ini dengan kita? Jawabannya tentu karena Anda yang tak ingin bersahabat dengannya.

Yah sudahlah, anggap saja hujan yang turun di tahun baru adalah berkah yang akan kita terima di sepanjang tahun 2008. Sehingga tak ada lagi bencana banjir, gempa bumi, kelaparan, dan Tsunami di negeri ini.

Sehingga kita bisa berlari mengejar ketertinggalan setelah sekian lama jalan di tempat akibat masalah alam yang tak pernah henti menimpa bumi pertiwi.



[+/-] Selengkapnya...

Senin

Air Pasang di Muara Baru

Fenomena alam ini kerap kali datang di wilayah utara Jakarta, maklum komunitas kita ini terbilang dekat sekali dengan laut. Dengan prasarana yang tidak memadai, semakin mempermudah air laut mangkal di Muara Baru.

Wilayah Kotamadya Jakarta Utara mempunyai luas 139,56 km2 yang membentang dari Barat ke Timur sepanjang kurang lebih 35 km dan menjorok ke darat antara 4 sampai 10km.

Selain beriklim panas, daerah ini juga dikenal sebagai daerah pantai dan tempat bermuaranya 9 sungai dan 2 banjir kanal. Tak ayal kondisi ini membuat wilayah Jakarta Utara menjadi daerah rawan banjir, baik banjir kiriman maupun banjir karena air laut pasang.

Pendapat di atas bukan sekedar ucapan jempol belaka, namun sangat meresahkan warga. Beberapa hari yang lalu, tepatnya 28 November 2007, wilayah Muara Baru, Penjaringan, dihantam air pasang dengan ketinggian mencapai 2 meter.

Menurut pengakuan dari warga setempat, banjir ini diakibatkan karena air pasang laut dengan ketinggian melebihi tanggul yang dipasang di sekeliling Muara Baru. Debit air yang besar, membuat tanggul tak mampu menahan luapan air laut sehingga menyebabkan banjir di sepanjang pemukiman warga.

Meski bukan kali pertama bencana ini terjadi, namun diperkirakan banjir air pasang itu merupakan yang terbesar di Muara Baru. Karena turut membanjiri beberapa kawasan di luar Muara Baru, seperti Muara Karang Raya, Tol Bandara Cengkareng, dan lain-lain.

Kejadian ini tentu saja meresahkan banyak pihak, baik dari warga setempat maupun warga Jakarta. Ketakutan mereka terhadap bencana ini bukan tanpa sebab. Mereka pun rela berpanas-panasan di Pelabuhan Sunda Kelapa mengajukan keresahan lewat aksi demo.

Dalam aksi demo tersebut, warga meminta pengelola pintu air dan Suku Dinas (Sudin) Tata Air Jakarta Utara segera membuka pintu air tersebut. Karena luapan air pasang sudah masuk ke pemukiman mereka, khususnya di RW 01, 02, dan 03 setelah sebelumnya menggenangi wilayah di RW 17.

Agar terhindar dari air pasang, bukan hanya melakukan peninggian tanggul di sepanjang Muara Baru, namun harus juga melakukan penataaan ulang kota atau rumah agar kerugian yang disebabkan air pasang tak terlalu besar.

Antisipasi
Untuk terhindar dari gelombang pasang, sebaiknya masyarakat bisa melakukan beberapa antisipasi. Pertama, menyesuaikan diri dengan gelombang pasang. Rumah-rumah penduduk di tepi pantai dibuat model panggung yang aman dari genangan air laut akibat gelombang pasang. Bagi daerah pertanian yang tergenang air laut saat gelombang pasang dapat diubah peruntukannya menjadi lahan budidaya perikanan.

Kedua, membuat bangunan pantai yang mampu mencegah gelombang pasang agar tidak merangsek ke darat. Antisipasi ini bertujuan untuk melindungi permukiman, industri, wisata, jalan raya, daerah pertanian, dan lain-lain dari gempuran gelombang pasang. Di Jepang misalnya, upaya seperti ini mampu menyelamatkan manusia dan harta benda lainnya dari hantaman gelombang pasang.

Ketiga, melakukan restorasi melalui peremajaan pantai dan rehabilitasi vegetasi pantai. Cara restorasi dengan peremajaan pantai (beach nourishment) sudah cukup lama dikenal. Proses ini meliputi pengambilan material dari tempat yang tidak membahayakan dan diisikan ke tempat yang membutuhkan.

Keempat, menghindari gelombang pasang dengan cara merelokasikan pemukiman, industri, wisata, daerah pertanian, dan lain-lain ke arah darat agar tidak terjangkau gelombang pasang.

[+/-] Selengkapnya...