Minim Publikasi Torehkan Prestasi
Sports Chanbara adalah olah raga bela diri bermain pedang dari Jepang dan diperkenalkan pertama kali oleh Tetsundo Tanabe Sensei pada tahun 1969.
Hingga kini, keberadaaannya seperti “kalah pamor” dengan olah raga bela diri lainnya. Padahal di kejuaraan 35th World Sports Chanbara Championship tahun 2009 yang lalu di Jepang, tim Sport Chanbara Indonesia meraih peringkat ke-3. Sebuah prestasi yang membanggakan tentunya.
Sports Chanbara atau Spochan sekarang sudah menyebar ke lebih dari 40 negara di dunia. Di Amerika, sendiri Sports Chanbara dikenal dengan sebutan Samurai Sports. Sedang di Singapura, Freestyle Japanese Fencing dan beberapa negara lain menyebutnya Kenjutsu Sports/Kendo Sports.
Bela diri menggunakan menggunakan senjata yang terbuat dari spons/udara yang dipompa dan ditambah dengan pelindung kepala ini sangat aman untuk dimainkan bersama seluruh anggota keluarga. Berlatih Chanbara bisa meningkatkan rasa percaya diri, menjaga kesehatan dan self defence.
Setelah mendapatkan afilliasi dari Chanbara Singapore dan terdaftar pada International Sports Chanbara Association (ISCA) di Jepang, maka Sports Chanbara resmi berdiri di Jakarta pada tanggal 8 Agustus 2008 dengan wadah bernama Sports Chanbara Indonesia (SCI) dan Sensei Arman Priadi, MSc ditunjuk sebagai Official Chief Instructor untuk Indonesia. Beliau sendiri adalah pemegang Chanbara Black Belt dan Japan Certified Instructor.
Dojo pertama Sports Chanbara di Sekolah Tunas Rajawali, Komplek Banjar Wijaya, Tangerang. Beberapa tahun kemudian SCI membuka Dojo ke 2 di Sports Club Taman Palem, Cengkareng. Selain di situ, Dojo Sports Chanbara juga berada di Prisma Sports Club Kedoya dan Cladeo House Taman Surya.
Beberapa Kejuaraan yang pernah diikuti SCI antara lain: 2nd Singapore Open Sports Chanbara Championship 2007, 3rd Asia Oceania Sports Chanbara Championship 2008 di Malaysia, 4th Asia Oceania Sports Chanbara Championship di Nepal. Chanbara Indonesia mendapat juara ke 3 di kejuaraan 35th World Sports Chanbara Championship tahun 2009 yang lalu di Yokohama, Jepang.
Lima Senjata Tradisional
Fokus dari bela diri ini adalah olah raga permainan pedang yang memang sudah lama dimainkan oleh masyarakat Jepang. Dalam berlatih, Chanbara menggunakan senjata yang terbuat dari spons atau udara yang dipompa dan pelindung kepala, sehingga sangat aman untuk dimainkan bersama seluruh anggota keluarga bahkan anak - anak sekalipun. Chanbara juga sudah menjadi bagian kurikulum dari pendidikan dasar di Jepang.
“Tidak masalah apabila Anda pernah atau sedang mengikuti seni bela diri lain, karena ini akan memperkaya dan menambah variasi gerakan Anda dalam pertandingan Chanbara nantinya. Sekarang, sudah banyak tempat latihan bela diri di negara lain yang menambahkan Chanbara pada programnya,” terang Arman Sensei.
Ada lima senjata tradisional Chanbara yang digunakan dalam latihan atau pertandingan, yaitu Tanto (pisau) – 45 cm, Kodachi (pedang pendek) – 60 cm, Choken (pedang panjang) – 100 cm, Yari/Naginata (tombak) – 200 cm dan Jo & Bo (tongkat) - 200 cm.
Sama seperti Kendo, pertarungan atau pertandingan Chanbara juga menggunakan sistem poin. Arah sasarannya adalah Kepala (Men), Tangan (Kote), Perut (Do), Kaki (Ashi). Untuk pertandingan bisa menggunakan sistim satu, tiga atau lima poin dalam penilaiannya.
Dalam pertandingan internasional, Sports Chanbara menggunakan satu poin pertarungan (Ippon Shobu), Pemain dinyatakan menang apabila dapat menyentuhkan senjata pertama kali ke tubuh lawan tandingnya. Bagian senjata yang boleh tersentuh pun hanya bagian depan senjata saja. Pemain hanya punya satu kesempatan saja dalam pertandingan penyisihan sampai semi final. Partai Grand Final, baru memakai sistem 3 poin (Sanbon Shobu). “Hal ini disesuaikan dengan keadaan pertarungan atau peperangan sesungguhnya, di mana Anda hanya punya satu kesempatan saja,” kata Arman Sensei.
Segala Usia
Sports Chanbara membagi 4 macam kelas, yaitu Little Samurai Class (4 - 12 th) - Kelas khusus untuk anak - anak. Di sini mereka akan belajar mengenai dasar - dasar bertahan dan menyerang dengan menggunakan pedang pendek. Anak - anak akan belajar menggunakan metode yang menyenangkan, disiplin, respectful dan siap untuk menjadi Little Samurai
Kedua, Teens Warrior Class - kelas untuk usia remaja. Disini mereka akan mempelajari lebih dalam tentang teknik menggunakan pedang pendek dan juga belajar menggunakan senjata lainnya. Mereka tidak hanya mampu menguasai senjatanya, tetapi juga ditanamkan karakter yang baik sebagai seorang Warrior Muda.
Ketiga, Adult Class (>17th)- kelas ini ditujukan untuk para mahasiswa, karyawan, pemilik perusahaan maupun ibu rumah tangga. Anda akan belajar tentang cara bertarung mengunakan pedang pendek dan panjang secara bersamaan, tongkat serta pisau. Kelas ini tepat bagi anda yang ingin menjaga kesehatan sekaligus mampu menjaga diri. Adrenalin Anda akan naik pastinya.
Keempat, Instructor Certification - kelas ini khusus untuk para instruktur dari bela diri lain yang ingin membuka kelas Chanbara sendiri. Mereka akan mengikuti pelatihan khusus untuk mendapatkan sertifikasi sebagai pelatih Chanbara.
“Bagi Anda yang berminat bergabung dengan SCI Dojo Cladeo House dan belum mempunyai peralatan akan kami pinjamkan. Berlatihnya seminggu sekali dengan durasi waktu satu setengah jam,” tutupnya.
Sabtu
Sports Chanbara Indonesia
Diposting oleh
majalah AdInfo PLUIT-CENGKARENG
di
10.38
0
komentar
Label: Khas
Senin
Cinema & Sound

Hadirkan Bioskop di Rumah
Memiliki home theater di dalam rumah ibarat “memindahkan” bioskop sungguhan. Tidak seperti menonton film di layar kaca, home theatre menghasilkan kualitas gambar tajam dan setiap detail bunyi suara yang keluar dari speaker terdengar jernih dan lebih jelas. Menonton film jadi lebih berkesan.
Tren masyarakat Indonesia yang haus akan hiburan di rumah, memicu mereka mencari solusi dengan menghadirkan home theatre di rumahnya. Permintaan pasar terhadap perangkat elektronik hiburan tersebut pun semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Home theater sekarang telah menjadi sesuatu yang “harus dimiliki” oleh setiap keluarga. Dalam penempatannya, banyak keluarga yang sengaja membuat tempat khusus dengan desain dan bentuk ruangan yang nyaman lengkap dengan susunan tempat duduk. Tapi, ada pula yang hanya menempatkan begitu saja home theate di ruang menonton TV.Home theatre bukan lagi sesuatu yang mahal yang dapat dinikmati oleh orang-orang kaya saja.
Menurut Konsultan Home Theatre Cinema & Sound, Koh Abeng, biasanya setelah lelah beraktivitas, hiburan yang paling menyenangkan adalah memutar film atau bernyanyi. Hidupkan imajinasi Anda, buat pikiran rileks secara instan dan nikmati suara keluar dari sound system speaker home theatre yang menghasilkan suara menggelegar layaknya di bioskop. Dengan begitu, Anda akan merasa seperti menonton di bioskop.
“Home theatre memang dibuat untuk bersenang-senang, tempat bersantai dan beristirahat bagi anggota keluarga. Tempat untuk menghabiskan waktu bersama-sama sambil menikmati hiburan,” tambahnya.
Ia pun berpesan, bujet membuat home theatre tidak sedikit. Untuk perangkat visual saja, paket termurah yang kami ditawarkan sekitar Rp 60 - 70 juta. Makin tinggi resolusi proyektor, makin bagus gambar yang dihasilkan dan harganya tentu lebih mahal.
“Konsumen yang menggunakan jasa kami juga merasa tidak tertipu. Sebabnya karena kami akan membawa barang dulu dan demo di rumah mereka lebih dahulu. Jika cocok, silahkan beli dan kami yang kerjakan selanjutnya,” terang Abeng yang saat ini sedang mengerjakan 30 kamar, ballroom dan lounge Hotel Aston Pontianak.
Tata Suara Yang Optimal
Menonton film dengan layar lebar dan suara ngejreng tidak harus pergi ke bioskop. Anda dapat menciptakannya di rumah dengan membuat home theatre. Selain untuk menonton film, home theatre saat ini juga difungsikan sebagai ruang keluarga, tempat karaoke dan bermain game.
Perlu disadari bahwa menikmati hiburan bioskop dirumah tidak hanya ditentukan oleh kualitas gambarnya saja, melainkan peranan dari kualitas suara juga penting, karena dengan didukung oleh tata suara yang ciamik, maka hiburan biskop di rumah dapat dinikmati secara maksimal.
Jika biasanya kita mendengarkan suara besar, tegas dan kadang lantang ketika mendengarkan suara dari home theatre akan menghasilkan suara yang lebih halus, matang dan berkelas. Sehingga suara yang dihasilkan terdengar menyerang dan penuh tenaga. Dari sisi tonal, suara yang dihasilkan seimbang dan tidak ada pengerasan suara ketika menampilkan adegan mobil berakselerasi, mendecit dan meledak.
Abeng mengungkapkan, pastinya merancang home theatre harus melibatkan desainer interior, ahli audio, ahli tata visual serta kontraktor, karena pengerjaannya cukup rumit dan banyak memakai perlengkapan khusus. Dibutuhkan perangkat visual berupa layar (screen) dan proyektor, selain player untuk memutar cakram padat atau video game.
Audio
Selain perangkat visual, home theatre juga harus didukung sistem audio yang istimewa. “Perlu tujuh speaker dan dua subwoofer. Tiga di bagian depan, dua di samping kiri dan kanan, dua speaker lagi di bagian belakang. Ditambah dua subwoofer untuk memberi efek dinamika atau menguatkan suara dentuman bass. Konsumsi listriknya bisa mencapai 2000 - 3000 watt. Untuk speaker, kami pakai barang kualitas terbaik di kelasnya,” ungkap Abeng.
Abeng melanjutkan, lengkap atau tidaknya frekwensi suara yang dihasilkan juga tergantung dimensi ruang. Jika ruangannya kecil, kemungkinan frekwensi bass tidak muncul atau tidak tereproduksi dengan baik. Ukuran ruang minimal agar bisa memproduksi suara lengkap sekitar 5 x 8 m.
Kata Abeng, jika bass (nada rendah) ada, otomatis middle (nada tengah) dan treble (nada tinggi) sudah pasti terdengar,” jelasnya. Biasanya setiap kegiatan membutuhkan kualitas audio berbeda. Jadi, speaker yang diperlukan untuk menonton film tidak sama dengan kebutuhan untuk berkaraoke.
Akustik Ruang
Supaya kualitas suara makin bagus, kita juga perlu memperhatikan akustik ruang dalam penataan interiornya. “Adapun biaya pengerjaan akustik ruang mencapai Rp 100 jutaan untuk ruangan minimal seluas 5x6 m,” terangnya.
Bagian dinding harus diberi treatment akustik, dengan menambahkan lapisan bahan yang menyerap suara: glasswool, busa tipis, atau bahan kayu mdf (medium density fiber). Begitu pula plafon bisa dilapisi gipsum dan lantai dilapisi parket atau karpet.
Tidak selalu akustik ruang diciptakan dengan melapisi keseluruhan ruang dengan bahan-bahan empuk. Tapi, bisa juga dikombinasikan secara proporsional dengan bahan keras seperti batu alam, batu bata atau kaca yang memiliki sifat memantulkan suara. Pemakaian bahan yang bervariasi juga akan menciptakan keseimbangan dan ambience interior yang lebih dinamis.
Dengan demikian, bila difungsikan sebagai ruang keluarga, home theatre tetap tampil menarik. Bahan-bahan akustik dan perangkat dalam home theatre cenderung mengeluarkan bau menyengat. Untuk itu, sebaiknya ruang diberi bukaan agar sirkulasi udara lancar.
Mengenai penerangan home theatre, yang penting tidak terlalu terang tapi tidak harus gelap seluruhnya. Kita bisa menempatkan lampu-lampu downlight di sekeliling ruang atau di atas area tempat duduk, asal tidak menyorotkan cahaya ke arah layar. Berbeda dengan gambar pada layar yang ditembakkan dari proyektor. “Bahannya bukan lampu, sehingga lebih aman untuk anak-anak,” katanya.
Diposting oleh
majalah AdInfo PLUIT-CENGKARENG
di
10.59
0
komentar
Label: Khas
Kamis
Pencucian Motor di Jalan Pedongkelan Raya
Pekerjakan Remaja Putus Sekolah
Selain berdiri banyak toko onderdil motor seken, sepanjang Jalan Pedongkelan Raya, Kapuk, juga diramaikan oleh penyedia jasa pencucian kendaraan bermotor sejak 2004. Jalan penghubung dari Jalan Daan Mogot ke Kapuk dan sebaliknya ini ramai lalu-lalang kendaraan bermotor dari pagi hingga malam.
Tercatat 20 penyedia jasa pencucian kendaraan bermotor di Jalan Pedongkelan Raya. Belum terhitung yang berada di perumahan warga. Luasnya minimal 3x4 m untuk kapasitas 2-3 motor berjajar.
Walau kondisi tempat usaha mereka terlihat seadanya—pondasi tiang dari bambu dan beratap terpal plastik. Namun keberadaannya mampu menciptakan lapangan kerja dengan memperkerjakan para remaja putus sekolah.
Keberadaan mereka memakan bahu jalan. “Menyoal izinnya kami hanya melapor dan menyetor sejumlah uang ke Trantib. Walaupun nanti ada peraturan dilarang membuka tempat usaha di sini, ya, saya pasrah saja, dan selama ini tidak ada masalah,” kata Irfan, pemilik salah satu pencucian motor.
“Sekitar tahun 2004 baru bermunculan 2-3 pencucian motor. Mulai 2007 hingga kini jumlahnya bertambah, mengingat modal buka usaha ini relatif tidak besar dan cepat balik modalnya. Pekerjanya pun remaja putus sekolah, setidaknya bisa meredam mereka dari kegiatan negatif yang marak beberapa tahun belakangan ini,” ungkapnya.
Pria asli Betawi ini mengatakan, pencucian motor di sini ramai konsumen saat musim penghujan. Satu dari dua pekerja saya, pernah mencuci 15 motor dalam sehari. Jumlah segitu lumayan banyak untuk tempat pencucian motor kategori kecil seperti tempat ini. Saya menekankan servis baik kepada pekerja saya. Jaga tingkah laku mereka agar sopan dan berhati-hati dalam mencuci motor agar tidak timbul komplain motor jadi baret atau ada bagian yang rusak.
Senada dengan Irfan, Budi, bapak dua anak pemilik pencucian kendaraan bermotor lainnya, menyatakan, modal awal buka usaha pencucian kendaraan bermotor berkisar Rp 5 juta, dengan asumsi buat membeli kompresor, 3-5 dirijen besar pemanpung air, aneka perlengkapan pencucian kendaraan bermotor dan membangun tempat usaha.
Agus (16) misalnya, pekerja di salah satu pencucian kendaraan bermotor yang AdInfo temui mengatakan, setamat SMP saya tidak melanjutkan ke SMA karena bapak tidak ada biaya. Kebetulan ada tetangga buka usaha pencucian kendaraan bermotor di sini dan ia mengajak saya. Uang didapat lumayan buat bantu keuangan keluarga. “Satu motor yang dicuci dikenakan tarif Rp 8 ribu dan tidak ada tambahan fasilitas semir ban, pengkilap jari-jari motor, jaminan cuci motor 20 menit selesai,” kata Agus, lugu.
Motor hasil pencucian Agus terbilang resik. Ia teliti dan detail saat mencuci.
Katanya, gumpalan tebal oli mesin pada bagian bawah mesin, dua arm dan rantai bagian tersulit dibersihkan. Melihat kondisi seperti itu, saya harus menyikat bagian kotor karena oli itu terlebih dahulu menggunakan sikat halus (agar tidak baret) dengan cairan peluntur.
“Lain kotoran tanah dan debu, tinggal menyemprotkan air ke bagian motor yang kotor, dalam beberapa menit kotoran pun hilang,” lanjutnya.
Sayangnya sebagian besar usaha pemcucian motor di sini tidak ditopang oleh usaha aji mumpung lainnya, seperti: menjual aksesoris motor: helm, sarung tangan, stiker, masker. ganti oli dan servis motor, jual makanan dan minuman (teh botol, aqua) untuk konsumen yang sedang menunggu Jasa .
Diposting oleh
majalah AdInfo PLUIT-CENGKARENG
di
10.06
0
komentar
Label: Khas
Komunitas GSPPV
Memasyarakatkan Olahraga
“Mensana in Corporesano” di dalam tubuh sehat terdapat jiwa kuat. Pepatah kuno ini selalu mengingatkan kita akan manfaat berolahraga.
Olahraga sedikitnya 30 menit setiap hari membuat mental menjadi lebih sehat, pikiran jernih, stres berkurang dan memicu timbulnya perasaan bahagia. Bahwa olahraga membuat peredaran darah menjadi lancar, membakar lemak dan kalori, serta mengurangi risiko darah tinggi dan obesitas. Sesibuk apapun, berolahraga rutin adalah kegiatan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
“Olahraga apapun yang kita lakukan pada intinya ada pergerakan tubuh berulang-ulang sehingga berkeringat. Jalan kaki saja itu sudah termasuk olahraga. Tak perlu lama untuk melakukannya, berhenti saja jika dirasa sudah cukup,” kata Ketua Grup Senam Pagi Pluit Village, Sufida yang dikenal sebagai perintis senam di Mega Mall Barat dan Mega Mall Timur.
Seperti dilakukan warga Pluit dan sekitarnya yang terhimpun dalam Grup Senam Pagi Pluit Village (GSPPV). GSPPV dirintis Sufida bersama teman-temannya sejak 12 tahun silam ini mempunyai misi sosial dan kesehatan, yaitu “memasyarakatkan olah raga dan mengolah ragakan masyarakat”.
“Berolahragalah demi kesehatan Anda, berolahragalah demi ketentraman hati Anda, berolahragalah demi kebahagiaan keluarga, berolahragalah demi kemakmuran negara dan berolahragalah demi kesuksesan kita bersama. Dengan berolahraga, akan tercipta badan yang sehat dan insan yang sehat, pasti bangsa juga sehat,” terangnya.
Tiga Kali Ganti Nama
Menilik dari sejarah, GSPPV awal berdiri memakai nama Perkumpulan Senam Tera Indonesia (PSTI) resmi dibentuk di parkiran bagian barat pusat perbelanjaan Mega Mall Pluit, Jakarta Utara. Seiring waktu berjalan PSTI berganti nama menjadi Perkumpulan Senam Pagi Mega Mall Barat (SPMMB) karena ada beberapa macam senam diberikan.
“Tujuan pengantian nama adalah untuk keleluasaan saja. dengan demikian senam yang bisa dikembangkan bisa beragam. Ada beberapa jenis senam yang diberikan yaitu, Waitankung, Senam Pernafasan, Taichi, Disko, Tarian, dan Life Dance. Semua senam diperagakan oleh ahlinya,” katanya.
Namun, SPMMB sejak usia ke-8 hingga sekarang memakai nama GSPPV—karena perubahan nama mall—dari Mega Mall Pluit menjadi Pluit Village. “Jadi, keberadaan grup senam yang kami rintis ini sudah berusia 12 tahun sejak 15 Agustus 2010,” jelas wanita penyuka Kwetiauw ini.
Setiap pagi mulai pukul 5.30 hingga selesai grup senam ini melakukan kegiatan senam pagi di pelataran parkir Pluit Village. Tercatat 150 orang anggota GSPPV aktif. Bagi yang ingin bergabung datang saja ke pelataran parkir Pluit Village setiap pagi.
Sufida selalu mengingatkan kepada seluruh anggota GSPPV agar giat dan aktif mengolahragakan masyarakat dan memasyarkatkan olahraga. Dengan berolahraga akan tercipta badan yang sehat dan insan yan sehat. Kalau masyarakat sehat, pasti bangsa juga sehat.
Diposting oleh
majalah AdInfo PLUIT-CENGKARENG
di
09.55
0
komentar
Label: Khas
Jumat
Jalan Ambon
Berasal dari Nama Pohon
Terlihat pemandangan pedagang sepatu sedang menjajakan barang dagangannya. Dengan gaya lesehan mereka menjual sepatu yang berjajar rapih, bersih, dan mengkilap. Belum lagi kilauan cincin bato giok dan semacamnya terlihat menyinari pintu masuk Jalan Ambon ini.
Itulah sekilas kehidupan yang sangat kentara di Jalan Ambon tepatnya dipintu masuk. Jadi, bagi yang ingin mencari sepatu kesukaan hati dan hobi mengoleksi batu cincin, ada baiknya coba sempatkan diri untuk mampir.
Menurut beberapa warga yang tinggal di sekitar Jalan ini, pemandangan orang-orang berjualan sepatu dan batu cincin ini sudah terlihat kurang lebih dari tahun 87-an untuk penjual sepatu, dan penjual cincin tahun 90-an. Namun sebelum semuanya itu, pasar yang menjual barang-barang loakan hadir terlebih dahulu dan tidak bertahan lama.
Jalan ini sudah ada lama sebelum pedagang sepatu dan cincin itu berjualan. Jalan Ambon mencakup RT 08 dan RW 002. Dinamakan Jalan Ambon, dikarenakan dahulu tepat diposisi tengah jalan besar terdapat dua pohon yang dinamakan pohon ambon.
Dinamakan pohon ambon karena bentuknya yang besar dan rindang. Pohon inilah yang menjadi ciri khas jalan ini, dan lama kelamaan banyak orang sekitar yang menyebut jalan ini sebagai jalan Ambon hingga bertahan sampai sekarang.
“Didalam Jalan ini juga terdapat SMPN 248 yang oleh pemerintah daerah masuk sebagai salah satu tempat percontohan bagi sekolah-sekolah lain disekitarnya.” tutur penjual sepatu, Margono. Lanjutnya, jalan ini juga masuk kedalam penilaian Adipura oleh pemerintah setempat. Oleh karena itu, sering ada penertiban oleh pamong praja atau aparat pemerintahan tiap setahun sekali.
“Penertiban itu biasanya berlangsung selama 3-4 hari dan mau tidak mau pedagang disini tidak jualan dulu selama masa tersebut.” tambah Margono.
Margono sendiri sudah sejak lama tinggal dijalan ini, jualan sepatu pun sudah dilakoninya sejak dari SMP hingga sekarang. Rata-rata untuk omzet penjualan sepatunya, Margono bisa meraup untung kurang lebih Rp 50-100 ribu per hari. Kebanyakan pelanggannya berasal dari daerah sekitar Cengkareng seperti Daan Mogot, Kapuk, Muara Karang serta sebagian juga berasal dari Tanggerang, Kebayoran Lama, dan Senen.
Sepatu-sepatu yang dijual Margono dan beberapa pedagang lainnya dibagi kedalam sepatu baru dan sepatu second berupa sepatu bola, sepatu santai, sepatu olah raga, dan sepatu kerja, harga relatif terjangkau Rp 35-100 ribu dapat di nego. Untuk sepatu baru kebanyakan didatangkan langsung dari Pondok Kopi sedang untuk sepatu second berasal dari orang yang jual ke pedagang.
Kualitas dan harga yang sepatu pun tak kalah dengan kualitas barang yang dijual di beberapa mall. Dan bagi yang ingin memperbaiki sepatu lamanya, sebagian penjual sepatu juga melengkapi pelayanannya dengan menyediakan sol sepatu, pun dengan harga yang dapat di nego.
Pergerakan bisnis dijalan Ambon juga dapat dikatakan tidak terlalu sepi untuk hari-hari biasa, hari ramai pembeli biasanya sabtu dan minggu. Persisnya ada sekitar 10 pedagang sepatu dan 7 pedagang cincin yang menjajakan barang dagangannya dijalan ini.
Penertiban resahkan pedagang
Selama ini, masyarakat yang tinggal dijalan Ambon masih tetap merasakan situasi yang aman dan terkendali. Namun bagi sebagian pedagang, mereka merasa resah jika terus ada penertiban.
Penertiban pedagang sudah menjadi masalah klasik dari dahulu hingga sekarang, bahkan dibeberapa wilayah. Masalahnya ada pada lahan berjualan yang dilarang untuk digunakan berjualan, biasanya dipinggir jalan. Namun kebanyakan, pedagang selalu disalahkan dan dicap menjadi penyebab dari semua itu.
Walaupun biasanya hanya 1 tahun sekali, namun penertiban itu berlangsung selama 3-4 hari. Dan bagi pedagang, selama 4 hari itu mereka tidak berjualan dan otomatis tidak ada pemasukan guna biaya kebutuhan hidup.
Tindakan aparat pemerintah juga sering agresif dalam hal praktek penertibannya. Jika sudah begitu, pergerakan bisnis oleh pedagang sepatu dan batu cincin disekitar jalan ini pun akan terhambat.
Guna menanggapi hal tersebut, sebaiknya pemerintah daerah dapat mencari solusi, seperti mencari tempat berjualan baru yang layak bagi mereka, dan memberikan sebuah arahan tentang membangun tata letak kota yang baik dan nyaman.
Diposting oleh
majalah AdInfo PURI
di
15.51
0
komentar
Label: Khas
Selasa
Gang Burung
Gang Sempit Penjual Keberuntungan
Dulunya tempat ini disebut sebagai tempat pelarian pencuri, pencopet, dan maling. Tapi sekarang, daerah yang disebut Gang Burung ini menjadi lokalisasi penjualan burung.
Nama Gang Burung sendiri diambil karena masyarakat yang tinggal di daerah tersebut banyak yang berprofesi sebagai penjual burung, khususnya jenis burung pipit. Nama gang tersebut mulai dikenal komunitas Kapuk dan sekitarnya sejak tahun 1970-an.
Sepintas gang ini mirip “gang senggol atau gang buntu” alias agak menyempit dan hanya dapat dilalui satu motor dan berliku-liku. Gang ini berada di tengah-tengah, sebelah kirinya terdapat tempat latihan billiard dan di samping kanannya ada bengkel sepeda motor.
Aktifitas menjual burung pipit ini sebenarnya sudah dilakukan masyarakat sekitar dari tahun 1958. Tapi waktu itu, nama tempat ini bukan Gang Burung. Pelakunya juga tidak seperti sekarang karena warga di sini masih banyak yang menjadi petani. “Kondisi daerah sini pun masih sawah, belum banyak rumah,” kata Ketua RT 001/RW 10 Gang Burung, Muasim.
Awalnya, orang-orang yang bisa disebut sebagai perintis usaha penjualan burung di sini hanya iseng menangkap burung pipit di sawah. Karena hasil tangkapannya lumayan banyak, mereka pun langsung menjualnya di pinggir jalan menggunakan sepeda dan kandang burung seadanya.
Lama kelamaan, kegiatan tersebut menjadi perhatian dan diikuti warga lain. Akhirnya, jumlah penjual burung di Gang Burung bertambah banyak.
Muasim sendiri juga pernah menjual burung keliling menggunakan sepeda pada tahun 1960-an. Namun tak berapa lama, sekitar tahun 1971, ia ikut bekerja di proyek bangunan dan berpindah pekerjaan di bidang sumur bor hingga sekarang.
Salah satu perintis usaha penjualan burung pipit ini adalah (alm) Micang. Banyak warga sekitar yang mengatakan kalau keluarga beliau sudah turun temurun menggeluti usaha ini. Bahkan menurunkan usaha jual burung pipit pada anak cucunya.
Ada juga Kinan, seorang tengkulak besar yang merintis usaha dagang burung sampai sekarang. Dia dulu juga pernah berjualan burung bersama Muasim.
Wilayah Gang Burung mencakup RT 001 dan Rt 002, Kapuk, Cengkareng. Tapi, sebagian besar berada di wilayah RT 001. Meski begitu, penjualnya lebih banyak berasal dari RT 002. Sedangkan warga RT 001 sudah jarang yang menjual burung. “Mungkin hanya satu sampai dua orang saja,” jelas Muasim.
Ritual Lepas Burung
Karena kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan, sekarang hanya sedikit pedagang yang berburu burung di daerah tersebut. Kebanyakan malah pergi mencari burung di daerah Tangerang atau mendatangkan langsung dari Wonogiri dan sekitarnya.
Para tengkulak biasa mengumpulkan burung sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali pada waktu-waktu tertentu. Terutama menjelang perayaan Cap Gomeh ketika warga Tionghoa melakukan ritual sembahyang.
Hari yang paling ramai pembeli biasanya dilihat menurut tanggalan China. Seperti tiap tanggal 1 dan 15 (Cap GoMeh) ketika ada ritual sembahyang dan lepas burung. “Warga keturunan Tionghoa biasanya melepas burung untuk mendatangkan keberuntungan,” tegas Muasim.
Harga satu ekor burung dijual Rp 900 - 1500, semakin banyak burung yang dibeli, semakin murah harganya. Biasanya orang-orang Tionghoa membeli antara 100 - 500 burung dan dilepas langsung dari kandang tanpa dibawa pulang.
Bila dilihat dari segi ekonomi, bisnis penjualan burung pipit ini memang cukup menguntungkan. Bayangkan, isi satu kandang yang dibawa di atas sepeda bisa sekitar 150 ekor burung dan hanya butuh 1 liter beras untuk makanannya. Rata-rata, pendapatan yang mereka raih dalam sehari, antara Rp 50 - 100 ribu, tergantung sepi atau ramainya pembeli.
Dengan omzet tersebut, cukuplah buat mereka menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, ada baiknya bila para pedagang burung tersebut turut menjaga kesehatan masyarakat sekitar dan lingkungannya. Apalagi di daerah tersebut sering timbul aroma tak sedap karena kotoran burung.
Belum lagi masalah kapasitas kandang yang tidak sesuai dengan jumlah burung di dalamnya. Sering kali banyak burung yang mati karena hal tersebut. Bila mati, banyak burung yang dibuang di saluran-saluran air atau bak sampah.
Tapi untungnya, hingga saat ini belum ada keluhan warga yang menyebutkan daerah ini rawan flu burung.
Diposting oleh
majalah AdInfo PLUIT-CENGKARENG
di
14.39
0
komentar
Label: Khas
Rabu
Pelelangan Muara Angke
Berburu ikan segar tak harus dipasar tradisional, tapi bisa juga dilakukan ditempat pelelangan ikan. Selain jauh lebih murah dalam segi harga, jenis ikan yang ditawarkanpun jauh lebih beragam. Seperti ikan bawal, kepiting besar, lobster, dan juga ikan ikan teri.
Jika ingin mengunjunginya, bisa langsung datang ke Muara Angke, tepatnya di Jalan Dermaga Muara Angke. Tak ada syarat khusus untuk masuk ke kawasan ini, cukup dengan uang Rp1000 untuk pengendara motor dan Rp2000 untuk pengendara mobil sebagai biaya parkir.
Kebijakan ini tak terlalu merepotkan jika dibanding dengan keuntungan yang didapat yaitu bisa membeli ikan segar dengan harga di bawah pasar tradisional hingga 20-30%. Tak hanya itu, beragam jenis ikan yang ditawarkan oleh 100 lebih pedagang bisa menjadi pilihan yang menyenangkan.
Mereka bersandar di gedung tua berukuran 1500 m2, ada juga yang asik memajang dagangannya di pinggir jalan dengan beralaskan tenda-tenda berukuran kecil. Rata-rata dari mereka adalah orang lama yang telah berjualan selama puluhan tahun.
Tak perlu bingung untuk menentukan pilihan, karena biasanya harga yang ditawarkan para pedangan ikan tak jauh berbeda, baik yang berada di dalam gedung maupun di tenda-tenda kecil. Yang terpenting adalah Anda harus pintar-pintar menawar dan juga memperhatikan timbangan.
Karena konon katanya, timbangan para pedangan ikan tidak real takerannya. So, Anda harus pintar menawar agar tidak terlalu merugi.
Buka 24 Jam
Pelelangan ikan Muara Angke adalah salah satu pelelangan dengan jumlah penjual terbanyak di Jakarta. Mereka datang dari berbagai penjuru ditanah air, seperti Jakarta, Jawa, Padang, dan juga Medan.
Masing-masing dari mereka mempunyai jam operasi yang beragam, ada yang dari 10.00-23.00 dan sebaliknya. Karena itulah, kawasan ini tidak pernah terlihat sepi dan mati, meskipun order ikan dari beberapa daerah terhambat, lantaran cuaca yang tak bersahabat.
Selain dipadati pedagang dari berbagai daerah, Pelelangan Muara Angke juga dikunjungi pembeli dari berbagai tempat di Jawa Barat. Seperi Bekasi, Tangerang, Bogor, dan juga Bandung.
Ada Rumah Makan Lesehan
Selain berfungsi untuk jual beli ikan, pelelangan Muara Angke juga bisa digunakan untuk wisata kuliner. Hal ini terbukti dengan keberadaan rumah makan yang berada persis di depan pelelangan ikan. Setidaknya ada 20 rumah makan yang siap hantarkan kenikmatan.
Secara keseluruhan, konsep rumah makan yang ada bergaya lesehan, ancaman bambu sengaja dihadirkan pada interior dan eksterior rumah makan di sana, guna memberi kesan natural yang kental. Suasananya agak sedikit ramai, mengingat banyak karyawan rumah makan yang mencoba merayu pengunjung untuk mampir sejenak di tempatnya.
Ehm’sebuah pemandangan yang menarik, layaknya di sebuah penginapan. Jika ingin merasakan gairahnya, coba singgah ke tempat ini mulai pukul 08.00-02.00.
Untuk menu pastinya didominasi dengan ikan, seperti bawal asem manis, cumi goreng tepung, udang goreng, kerang rebus dan lain-lain. Ada juga menu berbahan sayuran seperti tumis kangkung, lalapan, keredok, dan juga gado-gado.
Adapun harga yang ditawarkan cukup beragam yaitu mulai dari Rp2000-50.000. Harga ini akan jauh lebih murah, jika bahan makanan yang digunakan datang dari pengunjung. Biasanya orang yang selalu datang ke tempat ini, menyempatkan diri untuk berburu ikan, lalu dimasak di rumah makan pelelangan.
Cara ini dianggap tepat, karena jauh lebih murah dan seru. Apalagi jika dilakukan bersama teman dan juga keluarga. Cobalah, jika tak percaya?
Ups, sebelum berburu ikan, ada baiknya dengar dahulu tips berikut ini tentang bagaimana memilih ikan yang fres dan sehat. Pertama, pilihlah ikan yang memiliki tumbuh kencang. Kedua, jangan lupa memilih ikan dengan warna kulit yang segar. Ketiga, perhatikan insan ikan yang Anda pilih, jika berwarna merah berarti ikan itu fres dan bangus. Terakhir, pastikan untuk memilih ikan yang bermata bening.
Diposting oleh
majalah AdInfo PLUIT-CENGKARENG
di
16.26
0
komentar
Label: Khas
Senin
Komplek Perikanan THT Cengkareng
Penjual Ikan Hias Terbesar di Jakarta Barat
Komplek Perikanan THT Cengkareng merupakan salah satu tempat penjualan ikan hias di Jakarta Barat yang berada di bawah pemeliharaan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Provinsi DKI Jakarta sejak 20 tahun lalu.
Tak perlu biaya untuk masuk ke dalam komplek perikanan ini, meski Anda tak berniat untuk beli satu ekor ikan hias sekali pun. Malah para penjual tak segan memberi izin pengunjung untuk melihat, menyentuh maupun memberi makan ikan-ikan yang sedang berenang di kolam.
Seru bukan? Apalagi jika ikan yang Anda lihat dan beri makan besar dan jinak-jinak. Mau coba? Datanglah ke komplek perikanan tersebut, lokasinya sangat mudah dicari karena berada di pinggir jalan tepatnya di Jalan Kamal Cengkareng.
Rata-rata penjual ikan di sini sudah berdagang belasan tahun. Meski datang dari kultur yang beragam, toh hubungan yang terjalin antar penjual ikan hias sangat harmonis. Tak jarang mereka suka tukar-tukaran ikan, jika sedang kehabisan stok.
Maklum, untuk nunggu barang (ikan baru) cukup lama, sekitar 7 harian. Itupun kalau ada stok dari peternak ikan hias di daerah seperti Cirebon, Sukabumi, Bogor, dan juga Jawa Timur yang selama ini jadi pemasok semua ikan di Cengkareng.
Jenis ikan yang di tawarkan cukup beragam mulai dari Ikan Koi, Mas, Arwana, Discus, dan juga Cupang. Sayangnya, kebanyakan penjual ikan di tempat ini hanya menjual ikan lokal dibanding impor. Alasannya karena harganya jauh lebih murah, berkisar dari seribu hingga puluhan ribu rupiah.
Jika ingin membeli ikan di sini, jangan lupa untuk menawar. Meski terbilang lebih murah dibanding tempat penjualan ikan lainnya, tidak ada salahnya jika Anda menawar. Dengan demikian, uang yang tersisa bisa untuk membeli keperluan lain seperti, umpan ikan atau akuarium baru yang juga bisa didapatkan di tempat ini.
Atau bagi yang suka gonta-ganti asesoris akuarium atau kolam ikan, di sini juga tersedia dengan harga variatif dari Rp1000 - 30.000, tergantung jenis dan ukuran asesoris yang dibeli.
Tempat Rekreasi yang Menyenangkan
Selain berfungsi sebagai tempat jual beli ikan hias, Komplek Perikanan Cengkareng juga berguna sebagai tempat rekreasi keluarga yang menyenangkan. Situasi ini terlihat saat AdInfo mendatanginya, terlihat beberapa orang tua dengan anak-anaknya tengah asik bermain ikan yang beraneka warna dan ukuran.
Menurut salah satu pengunjung, Dewi, dirinya beserta keluarga memang suka menghabiskan waktu liburan di sini. Selain menyenangkan, bermain dengan ikan bisa menghilangkan stres.
Hal senada juga dituturkan bocah berumur 6 tahun, Aldi. Berkat keramahan pemiliki toko yang membolehkannya memegang dan memberi ikan makan, maka ia tak pernah bosan datang dan datang lagi ke tempat ini. Menurutnya, terasa sangat menyenangkan.
Rasa penasaran ingin mencobanya adalah perasaan yang kami rasakan pada saat itu. Untunglah ada seorang penjual yang bersedia memberi kami ijin untuk bercanda-canda dengan Ikan Koi. Setidaknya pengalaman ini akan membekas di hati, karena ini kali pertama kami bercanda dengan Ikan Koi yang penuh pesona.
Pengalaman kami juga bisa Anda rasakan, jika datang ke tempat ini hari Senin - Minggu mulai pukul 07.00 - 17.00.
Terdapat Rumah Makan Lesehan
Jika sudah puas bermain dengan ikan, jangan lupa untuk manjakan perut Anda dan keluarga di rumah makan lesehan. Tempatnya sangat asri dan nyaman, karena terbuat dari anyaman bambu dan bergaya lesehan.
Lokasinya masih berada dalam satu komplek perikanan dengan menu ikan, ayam, dan sayuran. Rasa khas masakan Sunda sangat mendominasi menu yang ada di tempat ini.
Selain rumah makan, terdapat juga ruang untuk bersih-bersih, letakknya tak jauh dari rumah makan lesehan. Kamar mandi yang tersedia sangat bersih dan nyaman.
Tips Merawat Ikan Hias
Jika Anda menyukai ikan, sudah seharusnya tahu bagaimana cara merawatnya. Tujuan adalah agar ikan bisa berumur panjang. Berikut cara yang tepat merawat ikan menurut seorang penjual ikan hias, Indra :
1. Pemilihan Akuarium dan Kolam Ikan
Sebaiknya pembuatan rumah ikan dilihat dari jenis ikan yang dimiliki. Untuk Ikan Arwana, ada baiknya menggunakan akuarium sedangkan Koi bagusnya diletakkan di kolam.
2. Pompa
Jangan lupa untuk selalu membersihkan pompa selama 2 kali seminggu agar air tidak cepat kotor
3. Saringan
Begitu juga dengan saringan air, untuk menambah panjang umur ikan, ada baiknya dilakukan pembersihan setiap hari.
4. Kuras Air
Lakukan pengurasan air dengan cara diendapkan. Caranya, air yang lama setengah dibuang dan ditambah dengan air baru. Tujuannya agar ikan tidak kaget dan bisa menyesuaikan diri.
5. Pisahkan Ikan yang Sakit
Ada baiknya untuk memisahkan antara ikan yang sehat dan sakit. Ikan sakit bisa mempengaruhi kekuatan ikan yang lain. Untuk mengetahui ikan yang sakit, biasanya mereka lebih senang berkumpul dan terlihat lemas.
Diposting oleh
majalah AdInfo PLUIT-CENGKARENG
di
11.33
0
komentar
Label: Khas
Rabu
Cengkareng Menjadi Pusat Penjualan Hewan Kurban
Bulan Haji lalu, kawasan padat Cengkareng dipadati penjual hewan kurban. Setiap tahun jumlahnya selalu bertambah.
Puluhan pedagang hewan kurban tersebut memadati pinggir Jalan Kamal Cengkareng, tepatya di lahan yang nantinya akan dijadikan jalan tol. Mereka membuka tenda-tenda berukuran besar memamerkan hewan kurban seperti sapi dan kambing.
Bisnis ini sudah dimulai bertahun-tahun lamanya yang kemudian membentuk habitat atau kebiasaan. Hingga jadilah Cengkareng sebagai pusat penjualan hewan kurban di Jakarta Barat dengan jumlah pedangan yang kian bertambah.
Mereka datang dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Sumedang, Surabaya, Wonogiri, dan Tangerang. Rata-rata telah berpuluh-puluh tahun ada di tempat ini dan memiliki pelanggan tetap. Karena itulah, mereka tidak pernah takut, meski jumlah pedangang kurban kian bertambah.
Sebelum menggelar lapak di Cengkareng, biasanya mereka menyiapkan diri dengan mencari hewan-hewan kurban yang bagus dan sehat. Setelah itu baru membawanya ke Jakarta dengan truk besar yang disewa senilai Rp2 juta sekali jalan.
Kebutuhan finansial untuk hidup di Jakarta dan pemeliharaan hewan juga mereka persiapkan. Setidaknya perlu biaya antara Rp3 - 4 juta untuk biaya pemeliharaan hewan, karyawan, biaya operasional , dan makan sehari-hari.
Mengenai perizinannya, tak terlalu sulit. Cukup dengan membayar uang administrasi seikhlasnya dan menunjukkan surat kesehatan kurban pada pihak Kecamatan Cengkareng.
Biaya di atas, akan menjadi masalah, jika penjual kurban adalah orang baru dan belum memiliki pelanggan tetap. Seperti yang dialami Muhammad Ali asal Jakarta, pedangan kurban yang kali pertama bisnis di dunia ini mengaku dagangannya sepi pengunjung. Sehari sebelum Lebaran tiba, hewannya hanya laku 15 ekor dari 100 hewan kurban yang dimiliki.
Berbeda dengan Suharto dan Abu Bakar, pedagang asal Wonogiri yang telah 20 tahun lebih berdagang hewan kurban di Cengkareng ini mengaku kebanjiran order. Baik yang datang dari pelanggan tetapnya maupun orang baru.
Setidaknya 60% hewannya terjual sebelum Lebaran Haji datang dengan keuntungan mulai dari Rp100.000 - 200.000/ekor (kambing) dan Rp200.000 - 300.000/ekor (sapi). Sebuah keuntungan yang cukup besar, pantas saja jika penjual hewan kurban ini terus meningkat dari tahun ke tahun.
Meningkatnya jumlah pedagang di wilayah tersebut, membuat mereka berpikir keras untuk menggaet pembeli. Salah satunya dengan SMS dan telepon melalui telepon selular yang mereka miliki. Layanan ini dilakukan untuk memberi kemudahan pada masyarakat dalam membeli hewan kurban.
Tempat Rekreasi Masyarakat
Selain membawa berkah bagi para penjual hewan, tempat penjualan hewan kurban ini ternyata juga dijadikan rekreasi unik bagi masyarakat. Meski mengeluarkan bau tak sedap, banyak warga menonton puluhan hewan kurban di tempat ini, baik pagi maupun sore hari.
Kedatangan mereka berbalut tujuan yang beragam, mulai untuk membeli kambing sampai sekedar mengisi waktu luang bersama anak, istri bahkan teman. Tak hanya mereka, namun jutaan mata pengguna jalanpun turut larut dalam suasana yang dihadirkan.
Entah teringat kisah yang ada di dalamnya atau tak ada pemandangan lain yang unik selain tempat ini. Tapi yang jelas, suasananya sangat mengesankan dan unik.
Diposting oleh
majalah AdInfo PLUIT-CENGKARENG
di
15.55
0
komentar
Label: Khas